
JAKARTA – Sektor properti Indonesia menghadapi tantangan berat di awal tahun 2026. Kinerja para emiten properti diprediksi masih akan tertahan akibat tekanan suku bunga tinggi yang terus membayangi pasar.
Sepanjang periode Januari hingga Maret 2026, emiten properti menunjukkan performa yang beragam. PT Ciputra Development Tbk (CTRA) menjadi salah satu yang mencatatkan penurunan kinerja. Pada kuartal I 2026, penjualan dan pendapatan usaha CTRA tercatat sebesar Rp 2,55 triliun, turun 6,37% secara tahunan (year on year/YoY) dibandingkan Rp 2,73 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Laba bersih perusahaan per 31 Maret 2026 pun terkoreksi 21,51% YoY menjadi Rp 518,3 miliar.
Kondisi serupa dialami oleh PT Summarecon Agung Tbk (SMRA). Meski pendapatan neto perusahaan naik 6,14% YoY menjadi Rp 2,23 triliun, laba bersih justru turun 20,34% YoY menjadi Rp 189,76 miliar akibat tertekan oleh beban biaya yang meningkat.
Harga Emas Melonjak Hingga Sentuh US$ 4.600, Begini Prospek dan Potensi Harganya
Di sisi lain, optimisme ditunjukkan oleh PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) dan PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) yang berhasil mencatatkan pertumbuhan positif. Pendapatan PWON pada kuartal I 2026 naik 5,83% YoY menjadi Rp 1,64 triliun, dengan laba bersih melonjak 29,31% YoY menjadi Rp 389,99 miliar. Sementara itu, PANI mencatatkan lonjakan kinerja impresif dengan pendapatan tumbuh 82% menjadi Rp 1,1 triliun dan laba bersih yang melesat lebih dari 10 kali lipat secara tahunan menjadi Rp 578 miliar.
Presiden Direktur PANI, Sugianto Kusuma atau yang akrab disapa Aguan, dalam keterbukaan informasi tanggal 4 Mei 2026 menyatakan bahwa pencapaian tersebut mencerminkan peningkatan kualitas pendapatan serta efektivitas strategi monetisasi kawasan yang semakin terarah.
Analis Maybank Sekuritas, Kevin Halim, menjelaskan bahwa penurunan kinerja CTRA dipicu oleh lemahnya capaian marketing sales pada 2025 yang berdampak pada kegiatan serah terima unit di 2026. Sebaliknya, kenaikan pendapatan SMRA ditopang oleh kinerja presales yang kuat di tahun sebelumnya serta stabilitas pendapatan berulang (recurring income).
Harga Emas Kembali Menguat, Analis Waspadai Tekanan Suku Bunga Global
Menurut Kevin, kenaikan kinerja PWON didorong oleh komposisi pendapatan yang besar dari segmen recurring income, sementara pertumbuhan PANI lebih banyak dikontribusikan oleh peningkatan penjualan lahan. “Secara umum, proyeksi suku bunga yang tetap tinggi akan berdampak negatif terhadap emiten properti. Namun, fundamental masing-masing emiten tetap terjaga berkat posisi kas dan neraca keuangan yang kuat,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (6/5/2026).
Kevin menambahkan bahwa penjualan properti di kawasan flagship township, seperti Summarecon Serpong milik SMRA dan BSD City milik PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), akan tetap resilien. Beberapa emiten juga memasang target optimistis, seperti PWON yang menargetkan pertumbuhan presales sebesar 15% YoY menjadi Rp 1,5 triliun melalui peluncuran tower Eluna di Kota Kasablanka. Sementara itu, LPKR menargetkan marketing sales sebesar Rp 6 triliun, naik 13% YoY, yang didorong oleh tingginya permintaan di Park Serpong.
Bitcoin Tembus US$ 81.000, Target US$ 100.000 Makin di Depan Mata
Meski saat ini valuasi saham properti berada di level historical low dengan diskon 80% hingga 90% terhadap Revalued Net Asset Value (RNAV), pasar dinilai belum memiliki katalis yang cukup kuat untuk memicu lonjakan harga dalam waktu dekat. Kendati demikian, Kevin tetap mempertahankan pandangan positif terhadap prospek saham properti untuk jangka panjang.
Sebagai rekomendasi investasi, Kevin menyematkan rating beli untuk BSDE dengan target harga Rp 1.050, CTRA dengan target Rp 1.150, PWON dengan target Rp 580, serta SMRA dengan target Rp 520 per saham.
Summary
Indonesia’s property sector faces significant pressure in early 2026 due to persistent high interest rates, leading to mixed financial performances among major developers. While companies like Ciputra Development (CTRA) and Summarecon Agung (SMRA) experienced profit declines during the first quarter, Pakuwon Jati (PWON) and Pantai Indah Kapuk Dua (PANI) reported positive growth driven by strong recurring income and land sales. Analysts note that while high interest rates remain a negative factor, many issuers maintain solid balance sheets and resilient projects in flagship townships.
Despite property stocks trading at historical valuation lows, analysts currently see limited short-term catalysts for a price surge. However, long-term prospects remain optimistic, supported by strategic marketing targets and successful project launches. Maybank Sekuritas maintains a buy rating for key players including BSDE, CTRA, PWON, and SMRA, as these companies continue to demonstrate operational stability amidst the challenging economic environment.