
Bank Indonesia (BI) akhirnya angkat bicara merespons pelemahan nilai tukar rupiah yang terus berlanjut selama periode libur panjang Idul Adha 1447 Hijriah hingga perdagangan hari ini. Rupiah sempat menyentuh level psikologis baru di angka 17.900 per dolar AS, sebuah catatan rekor terendah sepanjang sejarah.
Berdasarkan data Bloomberg, pergerakan rupiah di pasar spot sempat menembus level 17.900 per dolar AS saat libur Idul Adha pada Kamis (28/5), meskipun akhirnya ditutup pada posisi 17.845 per dolar AS. Tren pelemahan ini berlanjut pada perdagangan hari ini, di mana rupiah yang sempat dibuka menguat 25 poin di level 17.820 per dolar AS justru kembali tertekan hingga menembus 17.900 per dolar AS, sebelum akhirnya ditutup melemah di level 17.880 per dolar AS.
Baca juga:
- Untung Rugi Kebijakan Baru DHE SDA: Perkuat Rupiah, Tak Ramah Investor?
- Rupiah Makin Keok, Bank Jual Dolar AS di Atas Rp 18.000
Bank sentral menegaskan bahwa tekanan yang dialami rupiah saat ini dipicu oleh kombinasi faktor eksternal global serta meningkatnya kebutuhan terhadap dolar AS di pasar domestik. Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menyatakan bahwa ketidakpastian ekonomi global akibat konflik yang berkepanjangan di Timur Tengah menjadi faktor utama penekan nilai tukar.
“Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah masih dipengaruhi oleh berlanjutnya ketidakpastian global akibat perkembangan konflik di Timur Tengah,” ujar Ramdan dalam keterangannya, Jumat (29/5). Selain faktor geopolitik, BI juga menyoroti adanya lonjakan permintaan valuta asing (valas) yang bersifat musiman pada pertengahan tahun, terutama untuk kebutuhan pembayaran utang luar negeri dan repatriasi dividen perusahaan, di tengah ketersediaan pasokan dolar AS yang terbatas.
BI Pastikan Tetap Intervensi Pasar
Dalam upaya menjaga stabilitas, Ramdan menegaskan bahwa BI akan terus hadir di pasar dengan melakukan intervensi secara agresif. Intervensi ini dilakukan baik di pasar domestik maupun offshore demi memastikan nilai tukar tetap terjaga.
“Bank Indonesia terus berkomitmen hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, around the world, around the clock,” tambahnya. Strategi intervensi dilakukan melalui berbagai instrumen, seperti transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
Selain langkah intervensi langsung, BI memperkuat efektivitas bauran kebijakan moneter melalui struktur suku bunga instrumen yang lebih pro-market. Kebijakan ini dirancang untuk mempertahankan daya tarik aset keuangan domestik sekaligus mendorong aliran modal asing masuk ke Indonesia di tengah gejolak pasar global.
Terkait pengendalian permintaan dolar AS, BI juga memperketat aturan pembelian valas tanpa underlying transaksi. Terhitung mulai Juni 2026, bank sentral menetapkan batas maksimal pembelian valas secara tunai tanpa underlying sebesar US$25.000 per pelaku per bulan. Ke depannya, BI berkomitmen untuk terus memperkuat koordinasi dengan otoritas terkait dalam mengawasi aktivitas pembelian dolar AS yang masif oleh perbankan maupun korporasi, serta siap mengambil langkah kebijakan tambahan demi menjaga stabilitas pasar keuangan nasional.
Summary
The Indonesian Rupiah recently reached a historic low, touching 17,900 per US dollar amid persistent global economic uncertainty. Bank Indonesia attributes this depreciation to ongoing geopolitical conflicts in the Middle East and a seasonal surge in domestic demand for foreign currency, primarily driven by corporate dividend repatriations and external debt obligations.
To stabilize the currency, Bank Indonesia is aggressively intervening in both domestic and offshore markets using instruments like spot transactions and Non-Deliverable Forwards. Furthermore, the central bank has implemented a pro-market interest rate structure and restricted cash purchases of foreign currency without underlying transactions to US$25,000 per month starting in June 2026.