Poultry Feed Stocks: Performance Analysis and Investment Outlook

JAKARTA – Prospek emiten pakan ternak di Indonesia tetap menjanjikan di tahun 2026. Hal ini didorong oleh permintaan protein hewani yang terus meningkat serta dorongan dari program pemerintah, yaitu Makan Bergizi Gratis (MBG), yang diproyeksikan mampu menjaga harga ayam broiler dan mendongkrak kinerja sektor perunggasan sepanjang tahun ini.

Advertisements

Namun, di tengah optimisme tersebut, pelaku pasar tetap perlu waspada. Kenaikan harga bahan baku impor serta fluktuasi harga ayam hidup menjadi tantangan nyata yang dapat memengaruhi margin keuntungan perusahaan.

Kinerja emiten pada kuartal I-2026 menunjukkan performa yang cukup solid. PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) berhasil membukukan pendapatan sebesar Rp 19,95 triliun, naik 12,7% secara year on year (YoY), dengan laba bersih mencapai Rp 2,63 triliun atau tumbuh 15,5% dibanding kuartal sebelumnya.

Pencapaian serupa juga dicatatkan oleh PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA). Pendapatan bersih JPFA melonjak 23,6% YoY menjadi Rp 17,71 triliun. Lebih impresif lagi, laba bersih perusahaan meroket 166,9% YoY menjadi Rp 1,82 triliun, dengan margin laba bersih yang meningkat signifikan dari 5,8% menjadi 7,1%.

Advertisements

Sementara itu, PT Malindo Feedmill Indonesia Tbk (MAIN) mencatatkan pendapatan sebesar Rp 3,69 triliun, tumbuh 17% YoY. Meski laba bersih kuartalan tercatat turun, secara tahunan laba bersih MAIN melonjak 96% menjadi Rp 123 miliar.

Katalis Pertumbuhan: Dampak Program MBG

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Brigita Kinari, menilai kinerja emiten pakan ternak berpotensi tetap kuat pada kuartal II-2026. Salah satu katalis utamanya adalah program MBG. Pemerintah telah meningkatkan target penerima manfaat dari 53,8 juta orang pada akhir 2025 menjadi 60,2 juta orang pada Februari 2026. Penambahan jumlah penerima ini diperkirakan mampu mendorong permintaan ayam broiler sebesar 3,2%.

Selain itu, kebijakan pengurangan kuota impor Grand Parent Stock (GPS) dinilai sangat membantu menjaga stabilitas harga jual ayam di tingkat peternak. “Pemulihan segmen makanan olahan juga berpotensi menjadi pendorong laba yang signifikan bagi emiten,” ujar Brigita kepada Kontan, Rabu (13/5/2026).

Tantangan Bahan Baku dan Strategi Mitigasi

Meski prospek cerah, kenaikan harga soybean meal (SBM) impor akibat rendahnya produksi di Brasil dan Argentina menjadi tantangan yang perlu dicermati. Risiko kelebihan pasokan ayam broiler dan Day Old Chick (DOC) di pasar juga dapat menekan margin keuntungan.

Untuk mengimbangi hal tersebut, penurunan harga jagung domestik sebesar 3,8% secara quarter over quarter (QoQ) pada awal tahun memberikan napas lega bagi emiten. Strategi untuk mempertahankan profitabilitas dilakukan dengan penyesuaian average selling price (ASP) pakan secara bertahap serta diversifikasi ke segmen makanan olahan bernilai tambah tinggi.

Rekomendasi Saham

Terkait prospek investasi, para analis memberikan pandangan optimis untuk sejumlah emiten:

Brigita Kinari menilai saham CPIN masih tergolong undervalued dengan pertumbuhan segmen makanan olahan yang mencapai 66,6% QoQ. Ia memberikan rekomendasi buy dengan target harga Rp 5.900 per saham.

Sementara itu, analis Phillip Sekuritas Indonesia, Marvin Lievincent, memberikan rekomendasi buy untuk saham JPFA dengan target harga Rp 3.200 per saham. Senada dengan hal tersebut, analis BRI Danareksa Sekuritas, Victor Stefano, menyarankan buy untuk saham MAIN dengan target harga Rp 1.700 per saham.

Summary

The outlook for Indonesian poultry feed stocks remains positive for 2026, driven by rising animal protein demand and the government’s Free Nutritious Meal program, which is expected to boost broiler consumption. Major companies such as CPIN, JPFA, and MAIN reported strong first-quarter performances, with significant year-on-year revenue and profit growth. This positive momentum is further supported by supply management policies, such as the reduction of Grand Parent Stock import quotas, which help maintain stable poultry prices.

Despite this optimism, investors should remain cautious due to potential risks from volatile raw material costs, particularly imported soybean meal, and the threat of oversupply in the poultry market. Companies are mitigating these challenges by leveraging lower domestic corn prices and diversifying into high-value processed food segments. Analysts maintain a buy recommendation for CPIN, JPFA, and MAIN, viewing them as attractive investments given their growth potential and strategic operational adjustments.

Advertisements