
Presiden Prabowo Subianto secara resmi melakukan peletakan batu pertama atau groundbreaking untuk 13 proyek hilirisasi strategis dengan nilai investasi mencapai Rp 116 triliun. Upacara peresmian yang berlangsung pada Rabu (29/4) ini dipusatkan di Cilacap, Jawa Tengah, menandai babak baru dalam upaya percepatan industrialisasi nasional.
Dalam sambutannya yang disiarkan melalui kanal YouTube Sekretariat Presiden, Presiden Prabowo menekankan bahwa hilirisasi merupakan kunci utama bagi kebangkitan ekonomi Indonesia. Menurutnya, mengolah kekayaan alam di dalam negeri bukan sekadar strategi ekonomi, melainkan jalan tunggal untuk mencapai kemakmuran dan kesejahteraan rakyat secara luas.
Pembangunan proyek hilirisasi tahap kedua ini mencakup diversifikasi sektor yang luas, yakni lima proyek di sektor energi, lima proyek di sektor mineral, serta tiga proyek di sektor pertanian. Fokus utama dari inisiatif ini adalah meningkatkan nilai tambah sumber daya alam nasional agar Indonesia memiliki daya saing yang lebih kuat di pasar global.
Berikut adalah rincian dari 13 proyek strategis yang akan segera direalisasikan:
Sektor Energi dan Infrastruktur BBM:
1. Kilang gasoline di Cilacap, Jawa Tengah, yang dikembangkan oleh Pertamina.
2. Kilang gasoline di Dumai, Riau, yang juga dikelola oleh Pertamina. Kedua unit kilang ini memiliki kapasitas total 62 MBSD dan ditargetkan mulai beroperasi penuh pada kuartal IV 2030.
3. Tangki BBM Palaran di Kalimantan Timur dengan kapasitas 37 ribu KL, ditargetkan beroperasi pada 2028.
4. Tangki BBM Biak di Papua dengan kapasitas 46 ribu KL, ditargetkan beroperasi pada 2028.
5. Tangki BBM Maumere di Nusa Tenggara Timur dengan kapasitas 70 ribu KL, ditargetkan beroperasi pada 2027.
6. Fasilitas pengolahan batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME) berkapasitas 1,4 juta ton per tahun di Tanjung Enim, Sumatera Selatan, yang digarap oleh MIND ID bersama Pertamina.
Sektor Mineral dan Manufaktur:
7. Fasilitas manufaktur stainless steel berbasis nikel berkapasitas 1,2 juta ton per tahun di Morowali, Sulawesi Tengah, yang dikerjakan oleh Krakatau Steel.
8. Pabrik slab baja karbon berkapasitas 1,5 juta ton per tahun di Cilegon, Banten, oleh Krakatau Steel.
9. Pabrik Aspal Buton di Karawang, Jawa Barat, dengan target peningkatan kapasitas produksi dari 5 ribu ton pada 2025 menjadi 300 ribu ton pada 2030, dikelola oleh Wijaya Karya dan Jasa Marga.
10. Fasilitas hilirisasi tembaga dan emas, meliputi brass mill, brass cup, dan logam mulia di Gresik, Jawa Timur, yang digarap oleh MIND ID dan Len Industri.
Sektor Pertanian:
11. Fasilitas pengolahan sawit di Sei Mangkei, Sumatera Utara, yang dikelola oleh PT Perkebunan Nusantara III.
12. Fasilitas pengolahan pala di Maluku Tengah, digarap oleh PTPN III.
13. Fasilitas terpadu kelapa untuk memproduksi MCT, tepung kelapa, dan arang aktif di Maluku Tengah, yang dikerjakan oleh PTPN III.
Melalui pembangunan infrastruktur industri ini, pemerintah optimistis bahwa transformasi ekonomi Indonesia menuju negara yang mandiri dan makmur dapat terwujud secara berkelanjutan.
Summary
President Prabowo Subianto has officially launched 13 strategic downstreaming projects worth IDR 116 trillion in Cilacap, Central Java. These projects aim to accelerate national industrialization by processing domestic natural resources, which the President identifies as a vital strategy for achieving long-term economic prosperity and national independence.
The initiative encompasses a diverse range of sectors, including five projects in energy, five in mineral processing, and three in agriculture. By enhancing the value of domestic commodities through infrastructure such as oil refineries, steel manufacturing, and agricultural processing facilities, the government intends to strengthen Indonesia’s competitiveness in the global market.