US Strikes Iranian Radar Sites as Kuwait Faces Missile and Drone Attacks

Ketegangan di Selat Hormuz kembali memuncak setelah Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan terhadap sejumlah situs militer Iran akhir pekan lalu. Sebagai tanggapan, Teheran mengklaim telah membalas dengan menargetkan pangkalan yang digunakan oleh pasukan AS. Eskalasi ini menjadi insiden besar ketiga dalam satu pekan terakhir di kawasan vital tersebut.

Advertisements

Komando Pusat AS (Centcom) menegaskan bahwa tindakan mereka merupakan serangan defensif sebagai respons atas “tindakan agresif” Iran, termasuk dugaan penembakan jatuh drone AS di wilayah perairan internasional. Dalam operasi tersebut, jet tempur AS dilaporkan menghancurkan radar, fasilitas komando dan kendali drone di kota Goruk, serta instalasi di Pulau Qeshm.

Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan telah membidik pangkalan udara yang digunakan AS untuk menyerang menara komunikasi mereka di Pulau Sirri, sekitar 65 km dari garis pantai selatan Iran. Pihak Iran juga memperingatkan bahwa mereka akan memberikan respons yang jauh lebih keras jika agresi AS terus berlanjut.

Ketegangan pun meluas hingga ke Kuwait. Militer Kuwait melaporkan adanya pencegatan terhadap serangan rudal dan drone yang bersifat permusuhan, yang memicu bunyi sirene peringatan di seluruh negeri. Sebelumnya, Teheran juga pernah menargetkan pangkalan udara di Kuwait sebagai balasan atas operasi militer AS yang bertujuan mengamankan jalur pelayaran dari ranjau laut.

Advertisements

Di tengah memanasnya situasi, Donald Trump melalui akun Truth Social meminta para pengkritiknya untuk tetap tenang. Ia optimis bahwa situasi ini akan berakhir dengan baik dan menyebut Iran sangat antusias untuk mencapai sebuah kesepakatan yang menguntungkan bagi AS.

Namun, proses negosiasi justru menemui jalan buntu. Laporan dari CBS News menyebutkan bahwa Presiden Trump meminta perubahan signifikan pada syarat-syarat kesepakatan, khususnya terkait jalur pelayaran di Selat Hormuz dan penghapusan cadangan uranium tingkat tinggi. Di pihak Iran, kepala perunding menegaskan bahwa Teheran tidak akan menyetujui kesepakatan apa pun kecuali jika hak-hak negara mereka sepenuhnya dijamin.

Hingga saat ini, meskipun gencatan senjata telah diumumkan sejak 8 April, belum ada kesepakatan permanen yang tercapai. Pertemuan tingkat tinggi di Gedung Putih pekan lalu pun berakhir tanpa kejelasan langkah berikutnya. Usulan syarat baru yang mencakup penghentian kekerasan selama 60 hari dan pembukaan kembali Selat Hormuz masih menjadi perdebatan alot.

Ketidakpastian ini berdampak luas secara global, mengingat sekitar seperlima pengiriman minyak dan gas alam cair dunia melintasi Selat Hormuz. Embargo perdagangan de facto yang terjadi akibat konflik ini telah memicu kenaikan harga bahan bakar di seluruh dunia, menciptakan urgensi ekonomi di balik eskalasi militer yang terus berlangsung.

Topik Terkait:

  • AS kembali serang target di Iran untuk kedua kalinya dalam tiga hari, Teheran mengecam – ‘Pelanggaran serius atas gencatan senjata’
  • Armada ‘nyamuk’ Iran menantang Angkatan Laut AS di Selat Hormuz
  • Biaya hidup makin naik akibat perang AS-Iran, deretan perusahaan ini justru untung triliunan rupiah
  • Mengapa mantan Presiden Iran Ahmadinejad menjadi salah satu misteri dalam perang AS-Iran?
  • ‘Seperti tahanan yang dibebaskan’ – Warga Iran lega setelah pemadaman internet berakhir

Summary

Tensions in the Strait of Hormuz have escalated following defensive US airstrikes against Iranian radar and drone facilities in Goruk and Qeshm. In retaliation, the Islamic Revolutionary Guard Corps targeted airbases linked to US operations, while Kuwait reported missile and drone activity requiring military interception. These incidents mark the third major flare-up in the region within a single week.

Diplomatic efforts remain deadlocked as negotiations over uranium reserves and navigation rights continue to falter despite calls for a permanent ceasefire. The ongoing conflict has created a de facto trade embargo in the Strait of Hormuz, threatening global energy supplies and causing a surge in international fuel prices. With high-level talks failing to produce a resolution, the geopolitical and economic uncertainty continues to intensify.

Advertisements