
Wakil Menteri Keuangan, Juda Agung, menegaskan bahwa minat investor global maupun domestik terhadap instrumen investasi pemerintah, yakni Surat Berharga Negara (SBN), tetap berada dalam tren yang sangat positif. Kepercayaan pasar yang kuat ini tercermin dari tingginya angka kelebihan permintaan atau oversubscription pada berbagai instrumen utang negara.
Data menunjukkan bahwa Surat Utang Negara (SUN) berhasil mencatatkan kelebihan permintaan hingga 2,4 kali lipat, sementara Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) mencatat capaian yang lebih impresif dengan kelebihan permintaan mencapai 2,8 kali lipat. Momentum positif ini sejalan dengan data bulan April yang mencatat arus masuk bersih atau net inflow ke pasar SBN domestik sebesar Rp13,4 triliun.
Tidak hanya di pasar domestik, kinerja Indonesia di pasar internasional sepanjang tahun 2026 juga mencatatkan capaian signifikan. Penerbitan sukuk global senilai 2 miliar dolar AS sukses diserap pasar dengan tingkat kelebihan permintaan mencapai 1,97 kali lipat. Selain itu, pemerintah juga berhasil menerbitkan Samurai Bond senilai 172 miliar yen Jepang sebagai bagian dari diversifikasi sumber pendanaan.
Untuk memperkuat fundamental ekonomi, pemerintah kini tengah mempersiapkan penerbitan obligasi Panda dan Kangaroo. Strategi ini dirancang tidak hanya untuk memperluas basis investor, tetapi juga guna mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS serta menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah. Juda menekankan bahwa upaya pendalaman pasar obligasi terus dilakukan dengan menjunjung tinggi prinsip likuiditas, transparansi, dan tata kelola yang baik.
Dalam menyusun strategi pembiayaan tahun 2026, pemerintah menerapkan tiga prinsip utama yang terukur. Pertama, memprioritaskan pemenuhan kebutuhan utang domestik hingga 70 persen dalam mata uang Rupiah. Kedua, menjaga komposisi mata uang asing pada kisaran 25 hingga 30 persen secara cermat. Ketiga, menerapkan pengelolaan kewajiban aktif atau active liability management untuk mengoptimalkan struktur utang negara.
Menghadapi tantangan ekonomi global, pemerintah berkomitmen untuk terus memperkuat koordinasi lintas lembaga. Sinergi antara Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di bawah naungan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menjadi kunci dalam memastikan kebijakan moneter, prudensial, dan pasar modal berjalan selaras. Melalui pengelolaan fiskal yang disiplin serta transparansi yang terjaga, Indonesia tetap optimis dalam menghadapi dinamika pasar global.
Pilihan Editor: Sampai Kapan APBN Mampu Menahan Lonjakan Harga Minyak
Summary
Deputy Finance Minister Juda Agung confirmed that investor interest in Indonesian Government Securities (SBN) remains robust, evidenced by significant oversubscription rates for both domestic and international debt instruments. Notably, domestic SUN and SBSN issuances have seen oversubscription levels of 2.4 and 2.8 times respectively, alongside strong performance in global sukuk and Samurai bond issuances. This consistent demand is further supported by a net inflow of Rp13.4 trillion into the domestic market as of April.
To strengthen economic fundamentals and diversify funding, the government is planning further issuances of Panda and Kangaroo bonds while prioritizing domestic rupiah-denominated debt. The financing strategy for 2026 emphasizes active liability management, maintaining a balanced foreign currency composition, and fostering inter-agency coordination through the Financial System Stability Committee. These measures aim to ensure fiscal discipline, reduce reliance on the US dollar, and maintain market stability amidst global economic challenges.