Rupiah Plummets to 17,500 Amid Global and Domestic Pressures

Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, mengungkapkan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus level psikologis Rp17.500 per dolar Amerika Serikat pada Selasa, 12 Mei 2026, dipicu oleh kombinasi tekanan faktor global dan domestik. Rekor terlemah ini menjadi perhatian serius bagi pelaku pasar keuangan di tanah air.

Advertisements

Dari perspektif global, Josua menjelaskan bahwa fluktuasi rupiah didorong oleh tantangan inflasi energi, ekspektasi suku bunga global yang tetap tinggi, serta tingginya permintaan terhadap dolar AS. Situasi ini memicu tren pergeseran aset oleh investor global. Mereka cenderung menarik dananya dari negara berkembang untuk mengalihkan investasi ke aset yang dianggap lebih aman (safe haven), yang pada akhirnya menekan mata uang Asia secara keseluruhan, termasuk rupiah.

Selain faktor eksternal, tekanan domestik juga berasal dari sentimen lembaga internasional yang memengaruhi kepercayaan investor. Josua menyoroti penilaian dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait kepemilikan saham yang berkontribusi pada fenomena aliran modal keluar (capital outflow) dari pasar keuangan Indonesia sejak awal tahun hingga April 2026.

Ketidakpastian ini diperparah oleh kebijakan lembaga pemeringkat internasional seperti Moody’s dan Fitch Ratings, yang sejak awal tahun telah memangkas prospek utang negara dari stabil menjadi negatif. Peringatan tersebut berkaitan erat dengan persepsi pasar terhadap kredibilitas bauran kebijakan pemerintah, yang pada akhirnya menurunkan minat risiko (risk appetite) investor asing terhadap aset berdenominasi rupiah.

Advertisements

Dampak dari akumulasi risiko global dan penilaian lembaga internasional tersebut sangat masif. Tercatat, aliran modal keluar terjadi secara konsisten dari Januari hingga awal Mei 2026. Di pasar saham, tercatat outflow sekitar US$ 2,2 miliar, sementara di pasar obligasi mencapai US$ 0,7 miliar. Meski demikian, posisi pasar masih terbantu oleh arus masuk (inflow) pada instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) berjangka pendek.

Berdasarkan catatan Permata Institute for Economic Research (PIER), rupiah telah mengalami depresiasi sebesar 3,9 persen secara year-to-date. Pada penutupan perdagangan Selasa sore, 12 Mei 2026, mata uang rupiah terpuruk di level Rp17.529 per dolar AS, atau melemah sebanyak 115 poin dibandingkan sesi sebelumnya.

Pilihan Editor: Cara Meredam Efek Rupiah Loyo

Summary

The Indonesian Rupiah recently reached a historic low of Rp17,500 per US dollar due to significant global and domestic pressures. Externally, the currency is being challenged by high global interest rate expectations, energy inflation, and a flight of capital toward safe-haven assets. This trend has negatively impacted emerging market currencies across Asia, including Indonesia.

Domestically, investor sentiment has been dampened by MSCI-related capital outflows and credit rating warnings from Moody’s and Fitch regarding national debt. These factors led to consistent capital flight from the Indonesian stock and bond markets throughout early 2026. Consequently, the Rupiah has depreciated by 3.9 percent year-to-date, despite some stabilization provided by inflows into short-term Bank Indonesia Rupiah Securities.

Advertisements